Loading...

MD Studi Lapangan ke Desa Panglipuran: Ada Keberlanjutan di Desa Wisata Terbersih Dunia

Diterbitkan pada
14 April 2026 09:00 WIB

Baca

Bali, 14 April 2026 - Program Studi Manajemen Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Desa Adat Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, pada Senin (14/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis lapangan guna memperdalam pemahaman mahasiswa terkait pengelolaan desa wisata berbasis budaya dan keberlanjutan.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ibu Rini Wulandari, M.Sc. sebagai DPL sekaligus Dosen dengan disiplin ilmu kepariwisataan. Beliau menyampaikan pentingnya kegiatan KKL sebagai sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Desa Panglipuran merupakan salah satu desa terbersih di dunia, serta menekankan bahwa sektor pariwisata telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Ia berharap mahasiswa dapat insight dari pengelolaan desa tersebut, khususnya dalam aspek kebersihan, kemandirian, dan pelestarian budaya. Selanjutnya mahasiswa mampu menganalisis dengan teori-teori yang sudah dipelajari dibangku kuliah.

Sambutan kedua sekaligus pemaparan materi disampaikan oleh I Ketut Budhi selaku perwakilan Desa Wisata Panglipuran. Dalam paparannya, ia menjelaskan sejarah awal Desa Panglipuran yang berasal dari leluhur masyarakat Kintamani pada masa Kerajaan Bangli. Dalam aspek tata ruang, Desa Panglipuran menerapkan konsep Tri Mandala, meliputi utama mandala sebagai kawasan suci atau tempat bersuci, madya mandala sebagai area permukiman warga, serta nista mandala sebagai area pemakaman. Selain itu, kehidupan masyarakat Panglipuran juga berlandaskan prinsip Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab kebahagiaan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (pawongan), serta hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan). 

Dalam sesi tanya-jawab, mahasiswa bersama I Ketut Budhi mendiskusikan tentang pengelolaan desa wisata. Di mana masyarakat memiliki peran aktif melalui prinsip gotong royong, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kebersamaan. Nilai-nilai kejujuran serta keramahan juga menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada wisatawan.

Tidak luput didiskusikan, dari sisi manajemen keuangan, Desa Panglipuran menerapkan sistem pembagian hasil dari penjualan tiket wisata yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Dalam hal pemasaran, Desa Panglipuran memanfaatkan media sosial dan konten digital untuk menarik wisatawan, tanpa meninggalkan identitas sebagai desa tradisional. Hal ini mencerminkan perpaduan antara nilai tradisional dan kehidupan modern.

Sementara itu, dalam pengelolaan limbah, desa mulai mengembangkan sistem pengolahan sampah organik dan anorganik. Upaya penanganan sampah plastik dilakukan melalui pengumpulan oleh masyarakat dan penyetoran ke bank sampah maupun pemerintah daerah. Selain itu, untuk mengatasi lonjakan jumlah wisatawan (overload), desa memiliki strategi khusus berupa penyediaan atraksi seni dan hiburan guna mendistribusikan pengunjung secara merata.

Kegiatan ditutup dengan simpulan dan ucapan terimakasih oleh Kaprodi Manajemen Dakwah kepada pihak pengelola Desa Penglipuran. Selain itu, kaprodi menekankan adanya ide-ide menarik untuk meneliti dengan tema desa wisata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami secara langsung praktik pengelolaan desa wisata yang terintegrasi antara aspek budaya, lingkungan, dan ekonomi. Kegiatan KKL ini menjadi langkah nyata dalam membentuk mahasiswa yang adaptif, berwawasan luas, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan bermasyarakat.