Loading...

Refleksi Kaprodi MD di FORDAKOM 2026 di Pintu Nusantara

Diterbitkan pada
7 Juni 2026 22:11 WIB

Baca

Balikpapan, 4 Juni 2026. Pertemuan Forum Dekanat Dakwah dan Komunikasi (Fordakom). Kegiatan ini dilaksanakan 4-7 Juni 2026 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai peserta yang perdana mengikuti forum ini, Saya merasa bersyukur dapat menyimak diskusi para ahli, pejabat, dan akademisi di bidang dakwah dan komunikasi. Tidak sedikit yang hadir, penuh antusias, bagaimana tidak. Forum ini dihadiri total 142 peserta, antara lain: 28 Dekan, 23 WD Fakultas Dakwah dan Komunikasi se-Indonesia, para guru besar 9 orang, pimpinan asosiasi profesi seperti ASKOPIS, PAMDI, PABKI, P2MI, PAMHU; dan para kaprodi, ungkap Prof. Dr. H. Muhammad Abzar Duraesa, M.Ag., selaku Dekan FUAD, UINSI Samarinda melaporkan sebagai ketua panitia dalam pembukaanya.

Forum ini juga tidak hanya sekadar menghabiskan SPPD saja, forum ini penting untuk menjawab keraguan oknum terhadap alumni UIN (yang semapt viral, alumni UIN minim skill tapi banyak maunya) khususnya alumni FDK, tanggap Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag. WD 1 yang mewakili Rektor UIN Sultan Aji Muhammad Idris, yang juga turut memberi sambutan ucapan selamat datang di pintu Nusantara.

Tak hanya berhenti dalam forum, harap Ketua Umum Forum Dekanat Dakwah dan Komunikasi (FORDAKOM) saat ini yang akan digantikan juga pada hari terakhir (kan ada pemilihan), Prof. Dr. Hasan Sazali, MM.A. dari UIN Aceh, berharap semoga dari forum ini melahirkan kebijakan progresif.

Kolaborasi dalam kegiatan Fordakom kali ini nampak apik, sebab Wali Kota Balikpapan, Dr. H. Rahmad Mas'ud, S.E., M.E. turut hadir, membuka, dan memfasilitasi peserta untuk berkunjung ke IKN. Ucapan terimakasihturut disampaikan karena telah menjadikan Balikpapan sbagai tuan rumah. Persetatuan ini memupuk kesuksesakesuksesa. Dengan forum ini, anak-anak bangsa didesign agar tidak hanya cerdas intelektual, namun juga cerdas spiritual.

Oiya, disclamer dulu, tulisan ini dibuat bukan berarti Saya sebagai ahli di bidang dakwah dan komunikasi. Jujur, sebenarnya secara historis, saya memiliki disiplin keilmuan di bidang hukum Islam. Namun, tulisan ini dibuat sebagai bentuk refleksi penulis sebagai kaprodi Manajemen Dakwah di UIN Surakarta yang sudah berjalan hampir paripurna jabatan pada tahun 2027 nanti. Soal foto dalam postingan ini saya pilih bersama Dr. Asep Iwan Setiawan, karena beliau yang mereview, mendampingi, juga rekan diskusi saat MD Surakarta akan menghadapi reakred, yang Alhamdulillah Unggul. Baground kegiatan Fordakom bersama peserta yang ada sebagai bukti apa yang saya tulis tidak sekadar omon-omon, hehe. Sebenarnya, pembahasan di forum ini mencakup semua prodi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, seperti Bimbinhan Komseling Islam (BKI), Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Manajemen Dakwah (MD), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Manajemen Haji dan Umrah (MHU). Namun, saya fokus ke MD saja.

Prof Nur Syam dan Telusur Keilmuan Dakwah

Pada sesi penyamaan persepsi program studi rumpun ilmu dakwah dan komunikasi di PTKIN se-Indonesia oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, sebagai senior dalam forum ini juga guru besar di bidang ilmu dakwah UIN Surabaya menyampaikan pengantar dalam acara Fordakom ini. Setidaknya yang bisa saya tangkap, bahwa dalam forum ini, hadirin diajak untuk membaca, bagaimana fakultas dakwah dan komunikasi masa depan. Beliau mengajak melusuri rumpun, cabang, ranting dari keilmuan ini. Jika dikatakan ilmiah maka konsekuensinya harus empiris dan rasioanal sebagaimana standar UNESCO. Namun, dalam kajian dakwah harus juga mengenalkan epistimologi irfani. Itu kekhasan kajian keagamaan Islam. Ternyata bukan tanpa sebab pengantar ini disampaikan. Dalam sesi ini terjadi diskusi menarik tentang hal-hal strategis untuk kesolidan dan perkembangan keilmuan dakwah dan komunikasi. Termasuk isu-isu yang berkembang tentang dipindahnya prodi-prodi dakwah-komunikasi ke fakultas lain. Fenomena menteri Dikti menutup 122 prodi perlu menjadi perhatian forum dekanat ini, jangan sampai ada prodi di rumpun dakwah ini ditutup karena dirasa sudah tidak relate. Prodi yang sudah ada harus mampu mentransformasikan nilai dan aksi.

Jumatan di Masjid IKN dan Smart City

Saya nggak nyangka di hari kedua bisa sampai di IKN, yang di sosmed sudah viral karena dianggap mangkrak. Pada serangkaian kegiatan ini, ada kunjungan ke IKN, yang infonya sebagai perpindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta. Saya tidak fokus membahas perpolitikan ya, hanya dalam satu sesi saat berada di sana kita ada forum diskusi dan dipresentasikanlah tentang konsep smart city di sana, betul-betul smart sih konsepnya, semoga terwujud. Dari penataan kotanya, filosofisnya, ramah lingkungannya, pemanfaatan sumber daya alamnya, pendidikan inklusifnya, dan seterusnya. Perwakilan dari Fordakom juga diminta tampil. Prof. Gun Gun dari UIN Jakarta turun menyampaikan perspektifnya. Fakultas dakwah dan komunikasi bisa melihat ini sebagai peluang untuk mengisi ruang tata kelola di bidang spiritual, misalnya saja bagaimana berperan dalam kemakmuran masjid IKN. Dengan pendekatan sosial sains, dan akademik. Secara ilmu komunikasi, maka perlu strategi sehingga tempat yang baru ini bisa diterima oleh masyarakat, terutama membangun persamaan perspektif.

Masa Depan MD UIN Surakarta

Saya menyimak betul bagaimana prodi Manajemen Dakwah (MD) di Indonesia memiliki karakternya masing-masing, meskipun berakar pada rumpun ilmu dakwah. Misalnya di UIN Kasim Riau, MD lebih fokus pada kelembagaan ZIS, pariwisata keagamaan, dan haji-umrah. Namun saat ini direncanakan akan membuka prodi MHU, jadi fokus MD nya pun sudah mekar. Begitupula di UIN Bandung, MD sudah mekar menjadi MHU, selanjutnya MD fokus pada mecetak mudabbir di lembaga dakwah. Di UIN Jakarta, yang saya tangkap lebih fokus pada manajemen kelembagaan keuangan syariah.

Saya ditanya, bagaiaman MD UIN Surakarta? Ya saya jawab, tetap fokus saja dengan karakternya, yaitu menghasilkan tenaga ahli di bidang manajemen dakwah, peneliti sosial keagamaan, dan enterpreneur di bidang haji-umrah, serta pariwisata halal. Apakah akan memekarkan MHU? Em,, nampaknya belum cukup kuat akar, dan pupuknya untuk mekar, bukan tidak mau tapi memang SDM nya yang terbatas. Di sisi lain, UIN Surakarta memiliki prodi Mazawa yang sebelumnya di Fasya sekarang pindah ke FEBI karena titel S.E. nya. Agaknya ini tipis ya distingnya dengan bagian dari kajian di MD, sebab dalam peminatan kelembagaan dakwah juga diajarkan tentang filantropi Islam. Di UIN Surakarta adem ayem, belum terlintas melahirkan MHU.

Cukup tertegun juga, ketika Dirjen Pendis, Prof. Amin Suyitno yang juga sempat memberi arahan melalui zoomeeting, menyampaikan pentingnya membuat prodi didasarkan pada masa depan, nasib alumninya, berbasis akademik, bukan ego fakultas. Penting melakukan profiling alumni. Perlu difikirkan juga, untuk memenuhi permintaan industri maka bisa membuat pendidikan profesi, sehingga tidak perlu 4 tahun masa studinya, lebih singkat. Advokasi ada di fakultas, bukan memaksakan prodi yang sudah ada atau berebut prodi.

Mwnjadi pertimbangan juga, ketika Prof. Miftahudin sebagai Pokja Pengkajian Prodi Bidang Akademik Rumpun Ilmu Agama Dirjen Pendis, yang turut dihadirkan ke forum, menyampaikan bahwa beragamnya prodi yang semakin spesifik atau berbeda-berbeda tipis, jangan sampai membuat masyarakat bingung. Misalnya saja BKI di FDK dan BPKI di FIT, atau MHU di FDK dan MBHU di FEBI, masyarakat hanya butuh kepastian dan kejelasan.

MD dan MHU: Sanad Keilmuan yang Tersambung

Berdasarkan data prodi Manajemen Haji dan Umrah (MHU) di Indonesia, uniknya ada prodi MHU di FEBI ini menjadi diskusi panas juga dalam forum di Balikpapan ini. Ketua PAMDI, Dr. Cecep Castra Wijaya menyampaikan bahwa Perkumpulan Ahli Manajemen Dakwah Indonesia (PAMDI) dibentuk sejak tahun 2018, keanggotaanya terdiri dari 75prodi yang benaung di PTKIN maupun PTS Keagamaan.

Dr. Asep Iwan Setiawan yang saat ini menjabat sebagai sekjen PAMDI, namun juga sebagai ketua PAMHU (Perkumpulan Ahli Manajemen Haji dan Umrah) menegaskan bahwa secara keilmuan Prodi MHU lahir dari keilmuan MD, meskipun regulasi saat ini titel nya SE., namun jika akan diubah merujuk pada PMA Tahun 2026 Nomor 6 pasal 25 bahwa titel bisa mengambil dari nama prodi. Jika MHU diubah titelnya menjadi S, MHU, pun tidak bermasalah jika itu menghilangkan keranguan rumpun ilmu MHU ada di dakwah, bukan ekonomi. Dalam kesempatan ini, Dr. Asep menjelaskan histori awal MHU muncul adalah di UIN Walisongo Semarang dan itu di Fakultas Dakwah. Adapun pertama kalinya MHU lahir di FEBI ada di UIN Bengkulu, disusul UIN Bukit Tinggi dan UIN Metro. Total dari 11 MHU, 8 yang lainnya sampai saat ini (Juni 2026) ada di FDK.

Kaprodi MD UIN Bandung, Dr. Abdul Mujib mengajak muraja’ah tetantang ruang lingkup kajian manajemen dakwah dalam forum khusus PAMDI, mengingat yang hadir dari kaprodi MD saat ini tergolong baru-baru. Prinsip dakwah ada 3 yaitu bil hikmah, bil mauizah, dan bil jidal. Adapun secara metodenya, ketiganya bisa dikaji dengan istiqraa'i (analisis/penelitian), iqtibaas (menukil nash-nash), atau istinbath (menyimpulkan hukum dari nash). MD hadir untuk melakukan kajian prinsip dakwah dengan metode istiqraa'i sehingga memunculkan fokus tadbir, alumninya menjadi mudabbir (pengelola). Kajian MD juga bisa meneliti tentang bagaimana ragam da'i saat ini, apakah kultural (spontanitas muncul), struktural (bentuk organisasi), atau profesional (da’i yang dibekali). Bisa dikatakan bahwa khatib yang dibekali yang terorganisir dengan baik akan memiliki materi yang mendukung visi misi pemda untuk menggapai kemaslahatan. Di lihat dari ruang lingkupnya, dakwah dibagi menjadi 2 yaitu bil hal yang cakupannya kecil, sebab hanya ngomongin disekitarnya saja “haul", selanjutnya dalah dakwah bi ahsanil ‘amal, yaitu kualitas. Dalam sesi PAMDI ini akan diagendakan review kurikulum MD secara nasional melaui jaringan (online).

Saya kira cukup ini ya refleksi yang bisa dibaut. Maksud tulisan ini ya agar ada rekam jejak, bahwa kaprodi MD Surakarta pernah hadir dan mengikuti perkembangan terkini, juga menentukan sikap. Barangkali ada manfaatnya kelak, sebagai bahan pijakan kebijakan di UIN Surakarta. Wallahu a'lam bisowab.