Loading...

Mahasiswa Manajemen Dakwah Ikuti Seminar Meneladani Moderasi Beragama Era Rasul dan Sahabat

Diterbitkan pada
2 Juni 2026 08:00 WIB

Baca

Surakarta, Rabu (2/6/2026) – Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah mengikuti Seminar Moderasi Beragama bertajuk “Meneladani Moderasi Beragama Era Rasul dan Sahabat” yang diselenggarakan di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya sikap moderat dalam beragama sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis, toleran, dan penuh penghormatan terhadap keberagaman. Seminar ini juga menjadi sarana refleksi bagi mahasiswa untuk meneladani praktik moderasi yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar yang berlangsung dengan penuh antusias ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah dari berbagai program studi, di antaranya Manajemen Dakwah, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bimbingan dan Konseling Islam, Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, serta Aqidah dan Filsafat Islam. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh para dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan akademik. Kehadiran mahasiswa dan dosen dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama untuk membangun budaya akademik yang inklusif, toleran, dan mampu menghargai perbedaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Acara diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Dr. H. Kholilurrohman, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu kunci penting dalam menjaga persatuan dan kerukunan bangsa. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam, mahasiswa dituntut untuk memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sekaligus mampu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan.

Beliau juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut, melainkan memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil, seimbang, serta tidak berlebihan. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan mampu menjadi pelopor terciptanya kehidupan sosial yang harmonis.

Pada kesempatan tersebut, seminar menghadirkan narasumber Dr. Hj. Minanul Aziz Syathori, S.Ag., M.Ud. yang menyampaikan materi bertajuk “Meneladani Moderasi Beragama Era Rasul dan Sahabat.” Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengambil jalan tengah (wasathiyah), sehingga terhindar dari sikap ekstrem maupun sikap yang meremehkan ajaran agama.

Narasumber menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama dalam menerapkan prinsip moderasi beragama. Hal tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah, dakwah, amar ma'ruf nahi munkar, hingga hubungan sosial dengan sesama manusia. Dalam beribadah, Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menjalankan ibadah secara konsisten tanpa memberatkan diri dengan amalan yang berlebihan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dan kemudahan dalam menjalankan ajaran agama.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mencontohkan moderasi dalam berdakwah dengan mengedepankan pendekatan yang penuh hikmah, memberikan kemudahan, serta menyampaikan ajaran agama dengan cara yang menenangkan dan tidak mempersulit. Pemateri juga menjelaskan bahwa moderasi tercermin dalam sikap Rasulullah ﷺ ketika menghargai sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun status sosial, serta dalam komitmennya menjaga hak-hak nonmuslim yang hidup berdampingan dengan umat Islam.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami bagaimana para sahabat menerapkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Para sahabat mampu menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, bersikap bijaksana dalam berfatwa, serta menerapkan prinsip kesederhanaan dan keseimbangan dalam berinfak. Nilai-nilai tersebut menjadi bukti bahwa moderasi beragama telah dipraktikkan secara nyata sejak masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Kegiatan seminar berlangsung secara interaktif dan mendapat respons positif dari para peserta. Antusiasme mahasiswa terlihat dari aktifnya sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai tantangan penerapan moderasi beragama di era digital. Berbagai isu seperti penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, maraknya ujaran kebencian, serta pentingnya menjaga etika dalam bermedia sosial menjadi topik yang menarik perhatian peserta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Manajemen Dakwah semakin memahami pentingnya moderasi beragama dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat toleransi, persatuan, dan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan terselenggaranya seminar ini, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah berharap semangat moderasi beragama dapat terus berkembang di lingkungan kampus dan masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang baik, tetapi juga mampu mengamalkan ajaran agama secara bijaksana, seimbang, dan penuh penghormatan terhadap keberagaman.

Ini sudah lebih terasa seperti berita kampus karena fokus utamanya langsung pada mahasiswa Manajemen Dakwah, sementara peserta dari prodi lain dan dosen tetap disebut sebagai pendukung informasi.